Label

Tampilkan postingan dengan label KHOTBAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KHOTBAH. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 November 2017

MAZMUR 84: MEMBANGUN ROHANI YANG KUAT DALAM PERSEKUTUAN

-Noviani Yunita Sari
Teks: Mazmur 84:1-13
Tema: Membangun Rohani yang Kuat Dalam Persekutuan

PENDAHULUAN
Apa alasan kita datang beribadah? Apakah hanya sebuah peraturan atau keharusan? Menurut saudara, apakah ibadah atau perekutuan itu harus dilakukan? Mengapa? Salah satu alasannya adalah dalam persekutuan, kita dapat membangun rohani yang kuat.  Ini salah satu dari "Nyanyian Sion", dan agaknya dipakai oleh mereka yang berziarah ke Kota Suci. berupa puji-pujian kaum peziarah mengungkapkan kerinduannya untuk pergi ke Rumah Tuhan, Maz 84:2-4, dan tinggal di situ seperti burung-burung tinggal dekat mezbah Tuhan, Maz 84:4. Berbahagialah mereka yang boleh tinggal di bait Allah dan boleh berziarah ke situ, Maz 84:5-6. Kerinduan hangat itu meringankan perjalanan, sehingga daerah tandus dan kersang nampak memancarkan air dan disirami hujan lembut, Maz 84:7-8. Setibanya kaum peziarah memanjatkan doa bagi mereka yang berbakti di Rumah Tuhan dan merekapun bergembira karena berada dekat Tuhan yang melimpahkan karuniaNya, Maz 84:8-12. Lalu, bagaimana kita dapat membangun rohani yang kuat daam persekutuan?
ISI
1.      Membangun kerinduan untuk beribadah dan menikmati ibadah/ persekutuan (2-5)
Bagian pertama (2-5), pemazmur menggambarkan kerinduannya untuk berada di rumah Tuhan dengan memakai ilustrasi burung pipit dan burung layang-layang yang bersarang bahkan pada mezbah-mezbahnya(4). Begitu rindunya pemazmur sehingga di satu sisi ia merasa jiwa hancur, di sisi lain hati dan daging bersorak-sorai. Perasaan yang paradoks ini ditutup dengan pernyataan berbahagia bagi orang yang hidup di rumah Tuhan (5).
Ilustrasi: lagu natal
Lagu itu menggambarkan betapa rindunya dan hancurnya seeorang yang ingin sekali bertemu dengan orangtuanya pada saat natal. Pasti kita pun demikian. Tapi, apakah kerinduan dan hancur hati itu telah kita bangun kepada Tuhan? Apakah kita sungguh-sungguh memiliki kerinduan untuk beribadah? Jika kita sadari betapa bahagianya orang yang hidup di rumah Tuhan, beribadah dan bersekutu, maka secara otomatis kita dapat memiliki kerinduan untuk datang beribadah kepada Tuhan

2.      Persekutuan/ ibadah harus memperkuat bukan memperlemah kerohanian (6-8)
Bagian kedua (6-8), pemazmur beralih dari kerinduan berada di rumah Tuhan pada perjalanan ziarah ke rumah Tuhan. Mereka haruslah melewati lembah baka.
Lembah Baka merupakan bagian dari suatu wilayah yang berpadang gurun di dataran Israel. Suatu lembah yang penuh dengan semak belukar dan duri. Kering tapi bukan berarti tidak memiliki air. Di tengah kondisi yang tandus seperti itu, masih ditemukan beberapa sumur air, namun demikian air dalam sumur itu sangat sulit untuk dijangkau mengingat kondisi alam yang demikian curam. Alih-alih mendapatkan air segar dari sumur, yang terjadi adalah mengalirnya air mata karena kondisi yang sangat tidak mudah untuk memperoleh air.

Namun di tengah kondisi yang sedemikian sulit, pemazmur menyaksikan bahwa kekuatan yang dari Tuhan sajalah yang membuat mereka tidak berlarut-larut dalam kesedihan, bahkan bersukacita kerena kekuatan yang Tuhan berikan. Kerinduan untuk segera berjumpa dengan Tuhan di Bait-Nya telah mengalahkan segala rasa takut dan sedih, bahkan mereka seolah-olah menikmati kondisi Lembah Baka, yang tadinya terkenal dengan sebutan Lembah Air Mata namun mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air. Bukan karena mereka telah menggali sumur-sumur baru di lembah itu, tetapi sukacita hati dan kebahagiaan karena limpahan kekuatan yang mereka terima dari Tuhan itu bagaikan aliran mata air dan curahan hujan dari Sorga yang menyegarkan jiwa mereka. Mungkin keadaan yang harus mereka lalui tidak berubah, namun kondisi hati merekalah yang telah berubah. Dan sukacita itulah sesungguhnya yang membuat mereka sanggup mengalahkan situasi seburuk apapun. Orang yang bertekad untuk ke rumah Tuhan, akan mampu menghadapi segala hadangan untuk sampai ke sana. Kemampuan mereka adalah anugerah Tuhan.
Stephen Tong pernah berkata: Sejak usia 3 tahun, saya tidak punya papa, maka saya sangat mengerti kesusahan anak piatu. Saya pernah miskin, maka saya mengerti, tak punya uang memang bisa membuat orang serasa hampir gila, maka saya akan membantu sambil memberi dia tantangan, sambil melatih sambil menghibur. Saat keadilan Allah dan kasih Allah bisa dipadukan dengan harmonis justru akan membuahkan kuasa: Tuhan membiarkanmu mengalami kesulitan, karena Dia akan menjadikanmu penghibur bagi mereka yang dirundung kesusahan. Masalahnya: saat kita berada di lembah air mata, sering kita bersungut-sungut, mengomel, tidak memandangnya sebagai kesempatan untuk mengalahkannya.

Marilah kita, melalui persekutuan dengan Tuhan, mengalahkan lembah airmata itu. Persekutuan kita dengan Tuhanlah yang akan memperkuat kita. Untuk beroleh kekuatan kita harus melekat kepada Tuhan, karena tanpa pertolonganNya kita tidak akan mampu menghadapi semuanya itu.  Ini perlu latihan, artinya setiap hari kita harus rela dilatih dan dibentuk Tuhan melalui berbagai ujian dan tantangan yang ada.  Namun, jika kita sungguh-sungguh rindu untuk menghadap hadirat Tuhan, beribadah kepada Tuhan, persekutuan kita akan menguatkan kerohanian kita. Jika kita sungguh-sungguh rindu dengan Tuhan, sungguh-sungguh merenungkan firman-Nya, hal itu akan membuat kerohanian kita semakin kuat.

3.      Persekutuan/ibadah harus Meningkatkan iman dan kehidupan yang tak bercela (9-13)
Di tengah mazmur ini muncul permohonan agar Tuhan mendengar dan menjawab kerinduan hatinya (9-10). Doa ini mencerminkan iman pemazmur. Mazmur ini ditutup dengan mengulangi lagi kerinduan yang sudah dikobarkan di bagian pembuka (11-13), Pelataran Allah merupakan pilihannya (ay. 11). Ia sangat menghormati ketetapan-ketetapan kudus, jauh melebihi apa pun, dan ia mengungkapkan penghargaannya, dengan lebih mengingini waktu untuk menyembah Allah daripada waktu-waktu lainnya dan Dengan lebih menginginkan tempat ibadah daripada tempat lainnya. Ia ingin terus menerus dalam persekutuan intim dengan Tuhan. Perbandingan satu hari dengan seribu hari mau mengatakan bahwa kedekatan dengan Tuhan melebihi segala-galanya yang bisa didapatkan dari dunia ini. Karena ia menyadari bahwa Tuhan adalah matahari dan perisai. Tuhan yang menerangi kehidupannya dan menjadi pelindung baginya. Pemazmur juga menyadari bahwa Tuhan tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.

Persekutuan kita dengan Tuhan haruslah meningkatkan iman dan kehidupan kita yang tidak bercela. Dengan demikian, Tuhanpun tidak akan menahan kebaikan-Nya atas kita. Janji ini secara khusus ditujukan kepada kita jika kita dengan sungguh-sungguh berusaha untuk hidup saleh dan benar. Yang dipandang baik oleh Allah berkaitan langsung dengan penggenapan maksud-Nya di dalam hidup kita. Tugas kita adalah hidup tulus dan mengandalkan Allah untuk menyediakan segala sesuatu yang baik

PENUTUP

Mari membangun kerinduan dan menikmati ibadah/ persekutuan dan biarlah persekutuan itu dapat memperkuat dan meningkatkan iman dan kehidupan rohani kita

Kamis, 19 Oktober 2017

2 Raja-raja 22:1-13 "Keteladanan Pemimpin Reformis"

Nama   : Noviani Yunita Sari
Nats     : 2 Raja-raja 22:1-13
“Keteladanan Pemimpin Reformis”

PENDAHULUAN
Pada tanggal 31 nanti, kita akan memperingati 500 tahun Reformasi. Apa itu reformasi? Reformasi secara umum berarti perubahan terhadap suatu sistem yang telah ada pada suatu masa. Tokoh reformasi Protestan yang kita kenal yaitu Martin Luther dan John Calvin. Namun, jauh sebelumnya ada seorang tokoh pemimpin reformis yang memimpin sejak dia masih muda, yaitu Raja Yosia. Dalam 2 Raja-raja 22:1-13, kita dapat belajar bagaimana mejadi pemimpin yang reformis. Yosia, adalah salah satu raja di dalam sejarah kerajan Yehuda (Israel Bagian Selatan) yang mempunyai track record yang sungguh mengagumkan. Di dalam sejarah raja-raja Israel dan Yehuda, tidak banyak ditemukan raja yang benar di mata TUHAN. Di antara sekian yang takut akan TUHAN, terdapat hanya beberapa nama raja yang takut akan TUHAN. Kelahirannya sudah dinubuatkan sebagai pemimpin yang reformis di Kitab 1 Raja-Raja 13:2 pada masa pemerintahan Yerobeam oleh seorang abdi Allah. Yosia adalah seorang raja yang lahir dari seorang ayah dan kakek yang tidak takut akan TUHAN dengan segala tingkah laku mereka yang jahat.  Nama ayahnya adalah Amon dan nama kakeknya adalah Manasye.
ISI
Menjadi pemimpin yang reformis, kita harus menjalin hubungan vertical kita dengan Tuhan, dengan cara:
1.      Memperbaharui Hubungan Dengan TUHAN (2 Raja-Raja 22:3-7)
Semenjak jatuhnya raja Salomo, tidak ada raja yang bertahta di Yerusalem yang sungguh-sungguh memperhatikan rumah TUHAN yang dibangun oleh Salomo atas rancangan Raja Daud. Bukan hanya tidak dirawat, rumah TUHAN malahan dinajiskan oleh raja-raja sebelum Yosia dengan meletakkan berhala-berhala di dalamnya. Di komplek rumah TUHAN pun dijadikan tempat untuk melakukan hal-hal najis. Hasil dari usaha reformisnya tersebut, akhirnya kitab Taurat ditemukan di dalam rumah TUHAN.  Jika dilihat Tindakan memperbaiki Bait Suci itu dapat dikatakan kurang tepat dan hasilnya kurang efektif, sebab 2 raja sebelum Yosia sudah terlanjur merusak moral, akhlak, dan kerohanian bangsa Yehuda. Untuk memperbaiki keadaan ini dibutuhkan usaha yang lebih dari sekadar memperbaiki bait Allah.
Sesungguhnya Yosia tidak mempunyai penuntun, karena pada zaman raja Manasye, hampir seluruh salinan kitab Taurat Musa sudah dimusnahkannya. Namun Allah tidak membiarkan kerinduannya yang tulus menjadi padam. Ia memberkati usaha Yosia. Perbaikan bait Allah memang tidak membawa kepada pembaharuan rohani namun memimpin kepada ditemukannya kitab Taurat -- yang akan memberi arah dan petunjuk bagi Yosia.
Ada 2x Yosia mengatakan “memperbaiki” (5-6). Di sini maknanya tidak hanya memperbaiki, namun juga memperkokoh/memperkuat. Yosia ingin rumah Tuhan itu diperbaiki sehingga menjadi lebih kokoh dan kuat. Dengan memperbaiki rumah Tuhan ini, Yosia ingin memperbaiki hubungan bangsa Israel dengan Tuhan yang telah rusak. Rumah Tuhan dipakai untuk menyembah Tuhan, bukan berhala, dan untuk menyenangkan hati Tuhan.


TUHAN selalu menyatakan diri kepada orang yang tulus mencarinya. Begitu juga dalam hal ini, saat renovasi rumah TUHAN dilakukan dengan sungguh-sungguh, kitab Taurat ditemukan kembali. Hubungan kita dengan Tuhan yang sudah longgar atau malah rusak, haruslah kita perbaiki sehingga kita memiliki hubungan yang kuat dan kokoh dengan Tuhan.


2.      Peka Terhadap Suara TUHAN (2 Raja-Raja 22:11)
Faktor yang membuat Yosia mengoyakkan pakaiannya adalah bagian-bagian yang  berisi hukuman yang akan menimpa kerajaannya(ayat 1-17). Raja Yosia peka, tahu dan menyadari kebobrokn bangsanya yang membuat Tuhan akan menjatuhkan malapetaka atas Yehuda.  Dibutuhkan sebuah kepekaan untuk dapat mengerti isi Firman TUHAN jika dihubungkan dengan sebuah keadaan.
Sensifitas terhadap suara TUHAN dibutuhkan hal ini, apalagi kalau Firman TUHAN dibacakan secara general.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah analogi hubungan seorang ibu dengan bayinya yang baru lahir. Di tempat umum (rumah sakit bersalin), di tengah-tengah kesimpang-siuran suara ibu-ibu dan tangisan bayi-bayi lainnya, ibu itu bisa mengenali nada suara tangisan bayinya sendiri. Begitu juga kebalikannya. Semua itu menjadi mungkin hanya oleh karena mereka mempunyai ikatan ‘batin’ yang begitu dekat!

Ilustrasi tersebut jelas menggambarkan keintiman hubungan yang kita perlukan untuk bisa mempunyai kemampuan untuk mendengar suara Tuhan. Karena memang, persekutuan melalui doa dan kerajinan mempelajari alkitab, dengan berlalunya waktu akan membuat ‘telinga’ hati kita menjadi semakin peka akan suara Roh Kudus. Maka dari itu, kembali lagi bahwa hubungan kita dengan Tuhan yang mungkin telah rusak haruslah diperbaharui dan dipererat kembali.

3.      Meminta Petunjuk Kepada TUHAN
Setelah menyadari bahwa ada yang salah, seorang pemimpin yang baik pastilah akan bertindak dengan hati-hati, dalam hal ini raja Yosia ingin mengetahui lebih spesifik apa yang akan terjadi menimpa dirinya dan rakyatnya sehingga jika memang segala sesuatu masih bisa diperbaiki, maka hal itu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Maka dari itu, Yosia memerintahkan imam Hilkia dan lain-lain untuk pergi kepada seorang nabiah yang bernama Hulda untuk meminta petunjuk dari Tuhan.
Dalam ayat 13 ini, kata “meminta” bukan hanya sekedar meminta, melainkan juga “mencari”.

Berdasarkan ilmu kedokteran, tanda adalah petunjuk yang nampak dan dapat dilihat secara objektif, sementara gejala adalah petunjuk yang tidak tampak dan merupakan suatu pendapat yang subjektif. Tanpa kedua hal ini, sangat sulit bagi para dokter untuk menegakkan diagnosis yang tepat. Tanpa diagnosis yang tepat, tentu bisa dipastikan dokter tidak dapat memberikan tatalaksana yang memadai kepada pasien.

Demikian juga halnya dengan kehidupan manusia. Manusia benar-benar membutuhkan petunjuk di dalam hidupnya. Allah ingin kita mencari petunjuk dari-Nya melalui doa (Yak. 1:5). Dia juga memberi kita bimbingan melalui Roh Kudus (Yoh. 14:26) dan firman-Nya (Mzm. 119:105). Dia menyediakan para pembina rohani dan pemimpin yang bijaksana. Dan Dia telah memberi kita teladan dalam diri Yesus.

PENUTUP

Salah satu kunci untuk menjadi pemimpin yang reformis adalah dengan menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan dengan cara memperbaharui hubungan kita yang mungkin telah rusak, peka terhadap suara-Nya, dan meminta petunjuk kepada Tuhan untuk melakukan sesuatu. Marilah kita sama-sama belajar untuk menjadi pemimpin yang reformis yang juga dapat menjadi teladan bagi orang lain.

Kamis, 05 Oktober 2017

2 TESALONIKA 1:1-12 "BERDIRI TEGUH DI TENGAH PERSOALAN"

Nama   :           Noviani Yunita Sari
Tema   :           Berdiri Teguh Di Tengah Persoalan
Bacaan            :           2 Tesalonika 1:1-12

Pendahuluan :
Beberapa tahun terkahir ini kita mendengar dan menyaksikan berbagai berita aneh dan membuat kita ciut untuk menghadapi hidup. Berita kekerasan yang dilakukan oleh ISIS yang ramai dibicarakan beberapa waktu yang silam, dan di Indonesia beberapa ormas yang menentang kekristenan sering muncul. Penindasan terhadap pengikut Kristus tidak hanya terjadi sekarang-sekarang ini saja. Jemaat di Tesalonika pun mengalaminya.

Isi :
Dari 2 Tesalonika : 1-12 ini, ada beberapa hal yang perlu kita cermati bersama
1.      Sikap kita dalam menghadapi persoalan ( 2 Tes 1:1-5)
a.       Menyadari bahwa kasih karunia dan damai sejahtera-Nya menyertai kita
Rasul Paulus mengawali isi suratnya dengan sambutan hangat kepada jemaat yang ada di Tesalonika. Dan di dalam ayat 2, ada kata “menyertai kamu”. Kata ini sebenarnya memiliki arti “untuk/bagi kamu”. Jadi, “kasih karunia bagimu sekalian”. Dilanjutkan kalimat “dari Allah, Bapa kita”. Kata frase “kita” disini menekankan hubungan pribadi yang intim dari Paulus dan para petobat yang baru kepada SEORANG yang mereka sembah. Ada orang yang merasa dekat kepada Yesus namun masih merasa takut pada Allah Bapa.  Paulus memberi jaminan bahwa mereka dapat memiliki keyakinan dalam hubungan mereka dengan Bapa seperti dengan Yesus, karena Yesus datang ke dunia ini untuk menunjukkan kepada kita seperti apakah Bapa itu. Bapa yang adalah milik mereka juga.
b.      Kuat dalam iman, kasih, dan tabah
Paulus melanjutkan dengan pemberian apresiasi, “Kami wajib selalu mengucap syukur  kepada Allah karena kamu, saudara-saudara”--- Kata “wajib” (terikat/harus) adalah kata kerja.  Paulus merasa wajib untuk bersyukur pada Allah atas jemaat Tesalonika, karena apa?.  Karena iman mereka semakin bertambah kuat dan kasih mereka terhadap satu sama lain bertambah meningkat.  Kata kerjanya disini dalam bentuk present tense(masa sekarang).  Ini berarti bahwa pertumbuhan iman dan kasih mereka sangat kosisten dan berkelanjutan.
   Paulus memuji tentang IMAN, KASIH dan KETABAHAN MEREKA. Karena iman mereka yang semakin bertambah kuat, kasih terHadap satu sama lain bertambah meningkat, karena iman bekerja melalui kasih dan kesabaran/ketabahan mereka dalam penderitaan/aniaya yang terjadi pada saat itu.
Mereka dapat bertahan dalam penganiayaan karena iman mereka berakar pada penghormatan yang mendalam terhadap kasih Allah, dan kasih terhadap sesama yang dapat saling menguatkan,  serta kesadaran bahwa dunia ini akan segera berlalu saat Kristus datang kembali untuk memberikan upah bagi mereka yang setia dan menghukum orang jahat.
Kesabaran terhadap penderitaan dan iman yang berani di bawah penganiayaan merupakan BUKTI pemeliharaan-Nya bagi para penderita, dan dengan demikian bukti bahwa Dia pada akhirnya akan membalikkan ketidak-adilan dunia. Dan mereka yang teguh dalam imannya, layak menjadi warga kerajaan Allah.

Seorang anak perempuan mengeluh pada sang ayah tentang kehidupannya yang sangat berat. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dan bermaksud untuk menyerah. Ia merasa capai untuk terus berjuang dan berjuang. Bila satu persoalan telah teratasi, maka persoalan yang lain muncul.

Lalu, ayahnya yang seorang koki membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci dengan air kemudian menaruh ketiganya di atas api. Segera air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama dimasukkannya beberapa wortel. Ke dalam panci kedua dimasukkannya beberapa butir telur. Dan, pada panci terakhir dimasukkannya biji-biji kopi. Lalu dibiarkannya ketiga panci itu beberapa saat tanpa berkata sepatah kata.

Sang anak perempuan menunggu dengan tidak sabar. Ia keheranan melihat apa yang dikerjakan ayahnya. Setelah sekitar dua puluh menit, ayahnya mematikan kompor. Diambilnya wortel-wortel dan diletakkannya dalam mangkok. Diambilnya pula telur-telur dan ditaruhnya di dalam mangkok. Kemudian dituangkannya juga kopi ke dalam cangkir.

Segera sesudah itu ia berbalik kepada putrinya, dan bertanya: “apa yang kaulihat?”

“Wortel, telur, dan kopi,” jawab anaknya.

Sang ayah membawa anaknya mendekat dan memintanya meraba wortel. Ia melakukannya dan mendapati wortel-wortel itu terasa lembut. Kemudian sang ayah meminta anaknya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya si anak mendapatkan telur matang yang keras. Yang terakhir sang ayah meminta anaknya menghirup kopi. Ia tersenyum saat mencium aroma kopi yang harum. Dengan rendah hati ia bertanya “Apa artinya, bapa?”

Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda telah merasakan penderitaan yang sama, yakni air yang mendidih, tetapi reaksi masing-masing berbeda. Wortel yang kuat, keras, dan tegar, ternyata setelah dimasak dalam air mendidih menjadi lembut dan lemah. Telur yang rapuh, hanya memiliki kulit luar tipis yang melindungi cairan di dalamnya. Namun setelah dimasak dalam air mendidih, cairan yang di dalam itu menjadi keras. Sedangkan biji-biji kopi sangat unik. Setelah dimasak dalam air mendidih, kopi itu mengubah air tawar menjadi enak.

“Yang mana engkau, anakku?” sang ayah bertanya. “Ketika penderitaan mengetuk pintu hidupmu, bagaimana reaksimu? Apakah engkau wortel, telur, atau kopi?”

Bagaimana dengan anda?

Apakah Anda seperti sebuah wortel, yang kelihatan keras, tetapi saat berhadapan dengan kepedihan dan penderitaan menjadi lembek, lemah, dan kehilangan kekuatan?

Apakah Anda seperti telur, yang mulanya berhati penurut? Apakah engkau tadinya berjiwa lembut, tetapi saat ada masalah, Anda menjadi keras hati dan kepala batu? Kulit luar Anda memang tetap sama, tetapi apakah Anda menjadi pahit, keras hati, serta kepala batu?

Atau apakah Anda seperti biji kopi? Kopi mengubah air panas, hal yang membawa kepedihan itu, bahkan pada saat puncaknya ketika mencapai 100º C. Ketika air makin panas, rasanya justru menjadi lebih enak.

Apabila Anda seperti biji kopi, maka ketika segala hal seolah-olah dalam keadaan yang terburuk sekalipun Anda dapat menjadi lebih baik dan juga membuat suasana di sekitar Anda menjadi lebih baik.

Bagaimana cara Anda menghadapi penderitaan? Apakah seperti wortel, telur, atau biji kopi?

Kita harus meneladani sikap jemaat di Tesalonika. Di mana ada penderitaan, dan kita merasa ditindas oleh orang lain, di situlah iman kita bertambah kuat. Kasih kita kepada sesama kita makin erat, bahkan mengasihi orang yang menyakiti kita. dan kita pun dapat tabah menjalani setiap tantangan dalam hidup kita. Karena kita yakin bahwa Allah menyertai kita dan Allah akan melayakkan kita untuk menjadi warga kerajaan-Nya.

2.      Tindakan Allah bagi yang menderita
 “Paulus disini sedang membedakan upah/imbalan dari para penganiaya dan orang-orang yang dianiaya.  Penganiaya akan menerima penderitaan mereka seperti apa yang telah mereka lakukan terhadap orang lain, sedangkan orang yang dianiaya akan mendapatkan apa yang telah mereka rindukan, yaitu: KELEGAAN. Kata “kelegaan” di dalam ayat 7 ini, menggunakan kata anesin yang dapat juga berarti pemulihan, kelepasan, bahkan pertolongan. Itu semua sebagai bukti keadilan Allah.

Di Indonesia, terdapat suatu hukum yang mungkin banyak orang tidak mengetahuinya. Yaitu Undang-undang dan ancaman hukumannya untuk beberapa pelanggaran kesejahteraan hewan. Seperti Praktek Kekerasan di Masyarakat Termasuk pemukulan, penusukan, pencekikan, dan pembuangan hewan. KUHP pasal 302; 406; 335; 170; 540. Hukuman maksimal 12 tahun penjara. Undang-undang Peternakan dan Kesehatan Hewan no. 18 Tahun2009, pasal 66 dan 67. Pengandangan dan Perantaian Termasuk kandang yang tidak layak, kekurangan air atau makanan; salah urus; penyiksaan. KUHP pasal 302; 406; 540; 335. Hukuman maksimal 2 tahun penjara. Undang-undang Peternakan dan Kesehatan Hewan no. 18 Tahun2009, pasal 66 dan 67.

Demikian juga manusia di hadapan Allah. jadi, kita tidak perlu khawatir. Jika kita saat ini mengalami ketidak-adilan, merasa tertindas ataupun menderita, dan bahkan jika kita nantinya mengalami penderitaan karena iman kita kepada Kristus, kita harus percaya bahwa Tuhan sendiri yang akan memberikan pembalasan. Dan bagi orang benar, Ia akan memberikan Kelegaan. Pertolongan-Nya untuk melepaskan kita dari penderittan akan nyata. Hanya Tuhan yang sanggup melepaskan kita. Biarlah Allah sendiri yang bertindak. Jika kita mengambil keputusan untuk bertindak, dalam arti balas dendam, itu membuat kita semakin sesak.
(iklan)
Dan pada saat kita merasakan kesesakan, pergumulan hidup terasa berat, hanya Tuhan Yesuslah yang sanggup memberikan kelegaan bagi kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah penyerahan total kepada Allah. Jika kita mengandalkan kekuatan kita sendiri, kita tidak akan mampu mengatasinya.

3.      Kuasa Doa untuk pertumbuhan rohani (11-12)
Paulus menekankan betapa kuasa dan mujarabnya doa. Di sini Paulus, Timotius, dan Silwanus berdoa bagi jemaat Tesalonika. Dari sini kita dapat melihat manfaat doa, yaitu:
a.       Supaya Allah membuat kita layak bagi panggilan-Nya
Kita dipanggil dengan panggilan yang tinggi dan kudus. Kita dipanggil untuk Kerajaan Allah dan kemuliaan-Nya. Dan hal ini haruslah menjadi perhatian utama kita untuk bagaimana menjadi layak di hadapan Allah. Karena kita sendiri tidak memiliki kelayakkan untuk itu.
b.      Supaya Allah menyempurnakan perbuatan baik dan iman kita
Jika ada yang baik di dalam diri kita, itu adalah buah dari kebaikan Allah. sesungguhnya, karena eksistensi dosa, manusia tidak mampu lagi untuk berbuat baik. Perbuatan baik yang dilakukan di luar Kristus pastilah memiliki motivasi lain di belakangnya. Dan secara khusus, Paulus berdoa supaya Allah menyempurnakan pekerjaan iman dengan kekuatan Tuhan. Penyempurnaan pekerjaan iman ini diperlukan untuk penyempurnaan pekerjaan baik lainnya dan kuasa Allah tidak saja telah memulainya, tetapi juga melanjutkan dan menyempurnakan pekerjaan iman itu.
c.       Sehingga nama Yesus, Tuhan kita dimuliakan
Inilah tujuan yang harus kita capai di dalam segala sesuatu yang kita kerjakan, inginkan, bahkan yang kita alami, yaitu supaya Allah dimuliakan di dalam segala sesuatu.
(lagu: doa mengubah segala sesuatu)
Tiap doa yang lahir dari iman berkuasa menyelamatkan. Doa juga bisa mengubah segala sesuatu. Doa adalah power yang kuat dan energi penyemangat untuk mampu melewati setiap tantangan hidup! Orang yang berdoa adalah orang yang membutuhkan Tuhan demikian sebaliknya! Tuhan siap untuk mendengar keluh kesah kita dan doa-doa kita! Dan dengan doa, kita dapat memohon supaya Tuhan melayakkan kita, menyempurnakan perbuatan baik dan iman kita. Sehingga, dalam keadaan sulit sekalipun, nama Tuhan tetap dimuliakan.

Penutup :

Jadilah pengikut Kristus yang kuat sekuat batu karang, jadilah pemberi semangat dan harapan baru untuk orang-orang di sekitar kita yang sedang menghadapi persoalan berat. Bisikkan kepada mereka bahwa ada Yesus yang siap untuk menampung bebanmu, percaya dan berserahlah!

YESAYA 32:1-8 "KETELADANAN SANG PEMIMPIN"


PENDAHULUAN
Masyarakat sering kali mendambakan seorang pemimpin yang ideal. Pemimpin yang dapat mensejahterakan mereka. Kita adalah Hamba Tuhan juga calon pemimpin atau bahkan saat ini kita sudah menjai pemimpin haruslah menjadi pemimpin yang baik. Gambaran keteladanan pemimpin yang baik dapat kita lihat dari Yesaya 32:1-8. Seluruh bangsa di muka bumi mendambakan seorang pemimpin atau raja yang adil; yang mampu menjalankan pemerintahan dengan benar; dan mampu memberikan kesejahteraan lahir-batin kepada rakyatnya. Dan di sini, nabi Yesaya menubuatkan bahwa akan ada seorang Raja yang adil yang akan memerintah mereka, dan kita bisa belajar  bagaimana kita bisa menjadi pemimpin teladan?
ISI
1.      Pemimpin yang memerintah menurut kebenaran
ayat ini ( hen : sesungguhnya) memberikan jaminan kepastian bahwa Yehuda akan dipimpin seorang raja ‘menurut’ kebenaran dan ‘menurut’ keadilan. Ia akan memerintah dan kata memerintah di pakai bentuk aktif tanpa pelaku kedua, artinya ialah Ia akan memerintah karena memang Ia berkuasa mutlak dan bukan karena ada unsur lain di dalamnya sehingga Ia dapat memerintah, Ia akan memerintah menurut kebenaran dan keadilan (ayt.1). Konsep kebenaran dan keadilan dimaksud ada dalam wibawa (kemuliaan) Tuhan yang tampak-terurai dalam firman dan hukum-hukum Tuhan. Raja adil seseorang yang hidup dan bersekutu dengan Allah, bertolak belakang dengan raja-raja Yehuda yang melupakan Tuhan tetapi mengandalkan pertolongan raja-raja yang kuat menurut pikiran mereka. Tidak hanya memerintah, namun Raja ini membawa pengaruh kepada para pemimpin di bawahnya (ayat 1b).

*gambar ahok*

Mengapa kebenaran itu penting dalam sebuah posisi atau kedudukan pemimpin? Ayat ini menegaskan bahwa sebuah posisi kepemimpinan yang kuat tidak bergantung pada jumlah massa atau orang yang mendukung para pemimpin. Juga tidak tergantung pada orang yang mempunyai kemampuan dan talenta yang hebat. Lebih dari itu adalah posisi yang diisi oleh pemimpin yang dipimpin oleh kebenaran.

Kebenaran itulah yang memperkuat posisi sang pemimpin.
Ciri pemimpin yang dipimpin oleh kebenaran:
1.      Mengambil keputusan bukan karena perasaan senang atau tidak senang; suka atau tidak suka
2.      Mengambil keputusan bukan karena apa kata orang banyak
3.      Mengambil keputusan bukan karena untuk menyelamatkan diri atau mau aman
4.      Tetapi karena kebenaran (nilai-nilai).

Menjadi pemimpin yang dipimpin oleh kebenaran harus siap-siap kehilangan banyak pendukung, menjadi kesepian, susah hati atau tidak nyaman, dan tidak populer. Yang penting tidak kehilangan Tuhan dan orang-orang yang setia pada kebenaran.


2.      Pemimpin yang menciptakan rasa aman dan sejahtera
pemerintah yang menegakkan kebenaran dan keadilan secara-pasti memenangkan semua yang ada disekitarnya. Rasa aman, rasa damai dan kesejahtera sebagaimana penggambaran kiasan-kiasan dalam nats ini adalah bukti konkrit dari pemberlakuan kebenaran dan keadilan. Sebab pelbagai kejahatan, ketidakadil-benaran sering terjadi dalam suatu bangsa karena lahir dari pemimpin itu sendiri dan pembiaran oleh pimimpin itu karena mempertahankan kepentingan dirinya dan koleganya sendiri. Bila hal ini terjadi akan memicu katidak beraturan (anarkisme) secara bersamaan pemerintah akan bertindak dengan tangan besi. Sesuai nats ini, Semua itu akan berlalu ketika Raja adil tiba dan pemimpin menjadi tempat berlindung dari segala persoalan dan kekacauan yang selalu menghadang.
Dalam ayat 2 ini penulis memakai metafora padang gurun untuk mengambarkan betapa luar biasanya pemerintahan Raja yang adil ini, ialah pemakaian istilah:
1.tempat perteduhan”tempat persembunyian,” dari angin  kencang
2.“tempat perlindungan” terhadap angin ribut
3. “aliran-aliran air di tempat kering” air adalah suatu yang sangat berharga di padang gurun, apa lagi kalau itu sumber air di tengah tempat kering, dalam hal ini padang gurun, seperti (oase) akan sangat berarti, demikian perlindungan dari Tuhan
4. “naungan” dari sebuah batu besar di tanah yang tandus, karena daerah pada timur tengah adalah daerah yang kering, dan jarang ada pohon2 yang tumbuh dan dapat di jadikan tempat bernaung, jadi pada masa itu Batu-batu yang besar yang sering menjadi tempat perteduhan bagi para musafir.

Disaat ratusan keluarga imigran yang berasal dari Amerika Tengah dihantui ketakutan atas kebijakan terbaru dari pemerintah Amerika Serikat yang akan mengintensifkan deportasi terhadap imigran yang datang secara ilegal, para pemimpin gereja justru bersumpah untuk melindungi mereka.

Para pemimpin gereja membentuk “Gerakan Perlindungan” meliputi sekitar 50 jemaah dari beberapa kota di AS. Secara global, menurut pendeta Noel Anderson yang menjadi koordinator Layanan Gereja Dunia, jemaah pendukung gerakan itu mencapai 300 orang di 20 negara.

Mereka bersumpah akan menawarkan tempat ibadahnya untuk para imigran itu. Selama ini, pemimpin gereja sudah membuktikan niatnya. Ada setidaknya 10 imigran yang diselamatkan dari deportasi dalam 18 bulan terakhir, seperti diberitakan Reuters, Jumat (25/12), dua hari setelah rencana pemerintah disampaikan, berbarengan dengan perayaan Natal, pemimpin gereja itu kembali menyerukan sikapnya.

Pendeta Alison Harrington dari Gereja presbyterian di Tuscon, Arizona bahkan menyinggung kisah dalam Kitab Suci, tentang Maria dan Yosef yang mencari perlindungan sebelum kelahiran Yesus. "Sebagai pastur kita tahu bahwa setiap keluarga adalah keluarga yang suci. Kami membuka pintu kami untuk 'Maria dan Yosef' hari ini. Hadiah yang kami bisa tawarkan pada hari Natal adalah hadiah perlindungan," kata Harrington.

Januari lalu, mereka memberi perlindungan bagi perempuan imigran Honduras di Philadelphia yang dua anaknya lahir di AS. Perempuan itu kemudian mendapat penangguhan hukuman dua tahun dari deportasi. Ribuan imigran El Salvador, Guatemala, dan Nikaragua membanjiri AS dari Meksiko sejak awal 2014. Kebanyakan dari mereka, termasuk anak-anak, melarikan diri dari kemiskinan, kekerasan obat-obatan, maupun kekejaman gangster.

Seorang pemimin haruslah dapat menciptakan rasa aman dan sejahera bagi anggotanya. Bukan hanya melulu memerintah, namun juga harus melayani dan memberikan perlindungan

3.      Pemimpin yang melakukan pembaruan hidup
Pembaruan hidup seperti apa?
1. mereka akan melihat kebenaran
2. mereka akan mendengar kebenaran
3. mereka dapat menimbang untuk memilih kebenaran
4. mereka akan berbicara kebenaran ("orang gagap," BDB 748, hanya terjadi di sini)
Ini mencerminkan kondisi spiritual umat perjanjian yang telah dipulihkan.  Dalam pasal 6:10 dimana hati bangsa ini yang dibuat keras, telinganya berat mendengar, dan matanya tertutup diubahkan melalui pemerintahan Raja yang Adil itu. Mereka akhirnya dapat melihat dan mendengar kebenaran. Dalam ayat 4, hati orang2 yg menimbang2 itu dalam arti sebenarnya adalah mengerti. Jadi orang yg tadinya memiliki hati yg terburu2 karena nafsu, dapat tahu dan mengerti kebenaran dan orang yang gagap dapat berbicara dengan jelas. Dalam terjemahan Yunani, ada keterangan bahwa mereka membiarakan tentang kedamaian.
Dan bagaimana caranya untuk melakukan pembaruan?

A.    Ayat 5-7. Jujur dan Benci Kebebalan
Setelah di pimpin oleh sang Raja Adil sendiri maka akan ada juga perubahan kerangka berpikir, dari yang kurang tepat menjadi tepat dan  dari yang tepat menjadi benar.

–Orang bebal tidak akan di sebut lagi orang berbudi luhur dan penipu tidak di sebut lagi terhormat. Yang jadi pertanyaan sehingga tidak lagi di sebut berbudi luhur dan terhormat kepada orang bebal dan penipu, karena Pola pikir mereka yang sebelumnya di ubahkan oleh Tuhan sehingga memiliki pola pikir Kristus atau pola pikir yang benar. Kalau itu salah, mampu berkata itu salah, kalau itu dosa kita tidak akan toleransi namun tetap mengatakan itu dosa, ini ciri orang yang pikirannya sungguh di ubahkan oleh Tuhan. Mengapa harus demikian, karena di pimpin oleh Raja adil menurut kebenaran, atau sesuai dengan kebenaran.

 Kedua kelompok masih akan hadir dalam masyarakat, tetapi mereka akan terlihat
seperti apa adanya (ay. 6-7). Ayat 6-7 tampaknya menggambarkan dua orang fasik,
1. "bebal" (BDB 614) dijelaskan dalam ay 6
a. mengatakan kebebalan
b. hatinya merencanakan yang jahat
(1) bermaksud murtad
(2) mengatakan yang menyesatkan tentang TUHAN
c. membiarkan kosong perut orang lapar
d. orang haus kekurangan minuman
2. "penipu" (BDB 647, ditemukan hanya di sini, dua kali) yang dijelaskan dalam ay. 7
a. akal-akalnya adalah jahat
b. merancang perbuatan-perbuatan keji
c. mencelakakan orang sengsara dengan perkataan dusta
d. mengabaikan kesaksian sejati orang miskin
pada dasarnya pemimpin bebal dapat saja memerintah secara keji dan licik mementingkan dirinya sendiri. Perilaku yang penuh dengan kepura-puraan untuk menutupi segala tindakan  niat jahat yang tersembunyi di dalam dirinya. Hatinya tidak pernah tergerak untuk membantu orang-orang yang menderita kemiskinan dan kelaparan.

B.     berbudi luhur
Raja adil digambarkan seorang yang berbudi luhur bertolak belakang dengan orang bebal.
orang yang berbudi luhur (BDB 622), v. 8
a. merancang hal-hal yang luhur (atau "murah hati") berbeda dengan yang disebutkan dalam ay. 6 dan 7
b. rancangannya teguh, tetap
Kebebalan akan tersingkirkan dan kebenaran akhirnya mengalahkan kejahatan. Keadilan dan kebenaran menjadi karakter orang-orang yang bersekutu dengan Tuhan. Karakter bukan karena keterdesakan atau karena tuntutan sekitar tetapi sudah menjadi totalitas dirinya atau menjadi jati dirinya.


PENUTUP

Pemimpin yang sempurna ada dalam diri Tuhan Yesus. Kita sebagai Hamba-Nya tentulah harus memberikan keteladanan pemimpin sejati. Dimana pun kita berada dan siapa pun yang kita pimpin, kita harus menjadi pemimpin yang memiliki pribadi dan karakter yang membawa berkat bagi orang lain.

Jumat, 16 Desember 2016

WHERE IS YOUR TENDENCY?



Nats     : Mazmur 125:1-5


Pemilihan wali kota Batu akan segera dilaksanakan. Dan pada saat ini para calon sedang melakukan kampanye. Berbagai macam janji, mereka utarakan. Siapakah yang akan kita pilih?
Tuhan pun juga mengutarakan janji-janji-Nya kepada kita. Umat yang telah dibenarkannya. Namun, apakah kita percaya? Kemanakah tendensi (kecenderungan) kita? Memilih percaya dengan melakukan hidup benar atau memilih kehidupan fasik yang juga menawarkan kesenangan duniawi?
Dalam Mazmur ini, kita dapat melihat beberapa janji Tuhan bagi kita yang hidup dalam kebenaran-Nya.

I.                    (Ay. 1 dan 2) Menjadi kokoh dan aman
Pemazmur merefleksikan bahwa Israel kuat karena bergantung pada Allah yang benar.  Pemazmur memaparkan refleksinya tersebut dengan gambaran bahwa Israel seperti gunung Sion, sesuatu yang kokoh dan kuat. Pemazmur juga menggambarkan bahwa Tuhan melindungi bangsa Israel seperti pengunungan yang mengelilingi.
Kata “percaya” disini tidak hanya sekedar “percaya” (believe). Melainkan sungguh-sungguh percaya – mengimani (trust).
Disini juga dikatakan “seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya. Apa istimewanya gunung Sion? Sion adalah kota orang Yebus. Kota yang direbut oleh Daud. Dan tabut perjanjian di bawa ke bukit Sion. Sion adalah satu-satunya bukit yang dipilih Tuhan. Di mana peti perjanjian ditaruh di sana. Itu berarti Sion adalah satu-satunya tempat di mana tangan Allah berjanji untuk memimpin dan memelihara umat-Nya sampai selama-lamanya. Di sanalah ada peti perjanjian, di sanalah ada perjanjian Tuhan, dan di sanalah ada hukum Tuhan yang tidak berubah.

Gunung Himalaya? Himalaya tingginya 8892 m dan sekarang ini malah sudah bertambah menjadi 8902 m karena gempa bumi beberapa tahun yang lalu di kota Zechuan menjadikan seluruh pegunungan Himalaya naik 10 meter. Tempat itu dikatakan sebagai tempat yang paling kokoh dan kuat karena lapisan kulit bumi di sana 2 kali lipat tebalnya dari lapisan kulit bumi yang lain. Rata-rata lapisan kulit bumi 30km, tapi di tempat itu, 60km. maka dari itu, pemerintah Cina menaruh 7800 ilmuwan nuklirnya di sana. Namun, dengan adanya gempa dahsyat itu, ini membuktikan bahwa tidak ada satu tempatpun di bumi yang aman. Tidak ada satu tempatpun di bumi yang kekal. Semua adalah sementara, semua akan goncang, semua bisa berubah.
Kalau saya bersandar kepada tembok ini karena saya kira tembok ini kuat, padahal tembok ini bisa jatuh maka saya akan ikut jatuh, bukan? Kepada siapa engkau bersandar?

Walaupun semua hal secara alamiah akan goncang, akan berubah, akan jatuh, namun orang-orang benar, dan hadirat Tuhan ada dalam hatinya, maka ia akan kokoh, tetap, dan tidak goyang. Kita juga harus belajar bersandar kepada Tuhan. Bersandar hanya kepada Tuhan. Tuhan yang tetap dan tidak berubah. Orang yang bersandar kepada Tuhan, dia seperti Yerusalem yang dikelilingi oleh gunung-gunung. Orang yang bersandar kepada Tuhan adalah dikelilingi oleh Tuhan sendiri. Ada dalam lindungan Tuhan untuk selama-lamanya. Itulah orang benar.

II.                  (Ay. 3) Dilindungi dari pengaruh buruk
Mazmur ini ditulis pada saat bangsa Israel sedang dalam perjalanan ke Yerusalem. Di dalam perjalanan yang begitu panjang, banyak hal yang mereka temukan. Salah satunya adalah musuh, yaitu orang-orang fasik. Orang-orang fasik itu dapat saja dengan mudah mempengaruhi mereka. terlebih lagi, bangsa Israel adalah bangsa yang mudah terpengaruh hal-hal yang demikian. Apa yang menurut mereka enak, akan mereka ikuti. Jadi, musuh ini – orang-orang fasik ini adalah musuh eksternal namun juga dapat merupakan musuh internal. Dan dalam ayat ini dikatakan bahwa “tongkat kerajaan orang fasik tidak akan tinggal tetap”. They are not saved. Supaya apa? Supaya orang benar, umat Tuhan, tidak terpengaruh dengan kehidupan orang fasik. Orang fasik pasti akan dilenyapkan.

Menurut penelitian, hal yang negatif memiliki pengaruh 9 kali lebih kuat dibanding dengan hal yang positif. Lihat saja di sekitar kita. Jika ada perkumpulan tukang gosip, jarang ditemukan orang pendiam di dalamnya.
Untuk membuktikan teori itu, dalam waktu liburan nanti anda bangun siang. Biasanya di asrama bangun jam setengah 5, cobalah bangun siang. pasti saat masuk kuliah, kita akan susah untuk kembali bangun jam setengah 5. Padahal kebiasaan bangun jam setengah 5 adalah kebiasaan yang paling lama dilakukan.

Hal ini menunjukkan, hal-hal yang negatif, pengaruh yang buruk itu enak untuk kita ikuti. Tetapi di sini, orang benar akan mendapat perlindungan dari Tuhan. Orang fasik tidak akan tinggal tetap. Tuhan sendiri yang akan menghancurkan orang-orang yang membawa pengaruh buruk dalam kehidupan kita. Jadi, kemana kah tendensi kita? Pengaruh buruk atau pengaruh baik? Membawa pengaruh yang baik bagi sesama kita, atau malah membawa pengaruh yang buruk?

III.                (Ay. 4) mendapatkan kebaikan Tuhan
Dalam ayat 4 dan 5, tertulis sebuah permohonan. Kata “lakukanlah” di sini menggunakan bentuk hifil imperatif. Sebuah perintah kausatif. Sebab akibat. Memohon kepada Tuhan untuk melakukan yang baik kepada orang benar, sehingga orang benar mendapatkan kebaikan dari Tuhan. Orang benar di sini adalah orang-orang baik “tovim”, dan orang-orang yang tulus hati “yasyar”.

“hidup ini indah bila kau tahu jalan mana yang benar. Harapan ada, harapan ada, bila kau percaya” (lagu Glenn Fredly)

Hidup kita akan indah bila kita mengikuti jalan yang benar dan menjadi orang
benar. “tovim” dan juga “yasyar”. Kita memiliki pengharapan. Karena sebagai orang benar, kita dapat meminta kepada Tuhan supaya Tuhan melakukan kebaikan kepada kita. Meskipun tidak diminta, Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi umat-Nya yang hidup benar. Itulah keuntungannya jika kita hidup dalam kebenaran Tuhan.

Lalu, bagaimanakah dengan orang fasik?

IV.                Orang fasik pasti akan dihancurkan
Dalam ayat 3, dikatakan bahwa orang fasik tidak akan tinggal tetap. Dan di ayat 5, dikatakan bahwa orang-orang yang menyimpang ke jalan yang berbelit-belit, kiranya Tuhan mengenyahkan mereka bersama-sama orang-orang yang melakukan kejahatan. Dalam terjemahan bahasa aslinya dikatakan bahwa orang-orang yang berbalik ke jalan yang tidak lurus, Tuhan akan memimpin mereka kepada orang-orang pembuat kehancuran.

(ilutrasi: video Dong Haeng – “Way”)

Jadi, apakah tendensi kita msasih kepada kefasikan? Masihkah kita mau terpengaruh hal yang jahat? Atau malah mempengaruhi orang lain untuk ikut melakukan kejahatan? Hati-hati! Jangan sampai Tuhan memalingkan wajah-Nya dari kita.


Kita yang telah dibenarkan oleh Tuhan hendaknya tendensi kita juga kepada kebenaran. Hidup dalam kebenaran yang terus menyandarkan diri kepada Tuhan dan percaya akan janji-Nya.
Kenapa kita bersandar kepada Tuhan? Karena Tuhan adalah Tuhan yang berjanji. Allah yang sejati adalah Allah yang berjanji dan yang pasti menepati janji. Kitab Allah adalah kitab perjanjian. Tuhan Yesus menggenapkan Perjanjian yang Baru. Perjanjian yang Lama diteguhkan oleh Tuhan dengan tanda tangan dari darah binatang. Perjanjian yang Baru ditandatangani oleh Tuhan dengan darah Anak-Nya yang tunggal. Tuhan tidak pernah mungkir dari apa yang Dia janjikan.
Marilah kita hidup dalam kebenaran yang penuh kepercayaan. Penuh keyakinan akan Tuhan. Dan orang yang tendensinya adalah hidup benar, pasti diberikan damai sejahtera dari Tuhan. Amin.