Label

Tampilkan postingan dengan label TEOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TEOLOGI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Oktober 2017

SEJARAH GEREJA BNKP

BAB I
PENDAHULUAN

Di antara pulau-pulau lepas pantai barat Sumatera, pulau Nias adalah yang terbesar dan yang paling padat penduduknya. Pulau ini barulah dijajah orang Belanda sekitar tahun 1900. Sebelumnya, Belanda hanya menguasai daerah terbatas di sekeliling Gunung Sitoli. Penduduk, khususnya di pulau Nias, tidak menjadi pelaut, melainkan hidup dari usaha bercocok tanam. Maka masyarakatnya berifat tertutup dan adat serta agama turun-temurun berpengaruh besar.[1]
Misionaris Jerman pertama yang mendarat di Gunungsitoli adalah Pendeta L. Denninger. Misionaris lainnya menyusul kemudian. Mereka menembus kawasan Nias bagian Selatan pada tahun 1883 tetapi ditampik oleh orang-orang pribumi disana. Berpuluh tahun kemudian, mereka berhasil mengkristenkan penduduk pribumi, perubahan agama penduduk pribumi menjadi Kristen mempengaruhi sikap mereka terhadap kebudayaan, termasuk agama nenek moyang mereka. Fungsi agama kuno sebagai kontrol sosial dalam pengertian tradisionil telah ditransformasikan ke dalam etika Kristen, walaupun sebagian unsur kuno itu masih dipertahankan. Materi kebudayaan kuno seperti patung, batu-batu monumen gendang, tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Mungkin saja para penduduk masih mempertahankan beberapa tetapi hanya sekedar kenangan manis terhadap benda yang pernah dicintai dan dimiliki pada masa lampau.[2]






BAB II
ISI
A.    Permulaan Usaha PI
Akibat Perang Hidayat[3], maka sekitar tahun 1860 beberapa tenaga RMG kehilangan tempat kerja. Salah seorang di antara mereka bernama E.L. Denninger. Sebelum diutus ke Kalimantan iapun pernah menjadi tukang sapu cerobong asap rumah-rumah di Berlin. Oleh pengurus RMG di Barmen, Denninger disuruh pergi ke tanah Batak, tetapi karena isterinya sakit, ia terpaksa tinggal di Padang. Di sana ia enjalin hubungan dengan orang-orang Nias yang hidup di perantauan. Namun ia sampai pada kesimpulan, lebih bermanfaat kiranya kalau pergi sendiri ke Nias. Maka pada tanggal 27 September 1865 Denninger mendarat di Gunung Sitoli. Sebelumnya, antara tahun 1832-1835, telah ada dua misionaris (Katolik) bangsa Perancis bekerja di Nias, namun karya mereka tidak meninggalkan hasil.[4]
B.     1865-1890
Untuk menarik perhatian orang banyak supaya mau belajar Firman Tuhan dan nyanyian-nyanyian gereja, Denninger lebih dahulu membagikan tembakau untuk rokok dan ramuan sirih. Dalam masa permulaan yang sulit itu, Denninger berusaha mengajar beberapa pemuda agar dapat membaca dan menulis. Permulaan sekolah ini hanya diselenggarakan di rumah penduduk, dan ternyata berhasil, sehingga pemuda-pemuda inilah yang mampu menjadi pembantu-pembantu Denninger untuk mengajar anak-anak di sekitar Gunungsitoli pada tahun  1866.
Pada tahun 1872, tujuh tahun setelah kedatangan Denninger di Pulau Nias, datang pula missionaris kedua dari RMG yaitu Pendeta J.W. Thomas. Ia belajar bahasa Nias dari Denninger, kemudian melayani di Pos Pekabaran Injil  yang baru di Ombõlata.[5]
Sesudah itu  pada tahun 1873 datang lagi missionaris kegita bernama Kramer. Ia ditempatkan di Gunungsitoli bersama dengan istrinya yang terkenal sangat rajin berkunjung kepada keluarga-keluarga di Kampung Hilina’a, sehingga  pada hari paskah tahun 1874 berhasil dilaksanakan Baptisan pertama kepada 25 orang penduduk Kampung Hilina’a, termasuk Yawaduha, Salawa/kepala kampung Hilina’a. Dalam masa itu telah diciptakan sarana-sarana yang memungkinkan perluasan di kemudian hari. Pertama, orang Kristen Nias telah belajar untuk ikut aktif mengabarkan Injil. Salah seorang tokoh Nias yang berperanan besar dalam usaha P.I ialah kepala kampung, Ama Mandranga.[6]
Hasil pekabaran Injil berikutnya yakti pembaptisan 6 orang penduduk Ombõlata, tempat Pdt. J.W. Thomas melayani, dan pada tahun 1876 menyusul lagi pembaptisan 32 orang penduduk Faechu (±2 km dari Ombõlata). Pada tahun 1876 itu pula berdirilah Gedung Gereja yang pertama di Nias, yaitu di Ombõlata, dan pada tahun 1880 disusul lagi berdirinya gedung Gereja yang kedua, yaitu di Faechu.
Satu tahun sebelum meninggal dunia, yaitu pada tahun 1875, Denninger pergi berobat ke Batavia. Dan Pada tahun 1876 tiba di Nias missionaris keempat bernama Dr. W.H. Sundermann. Setelah dua tahun bersama Kramer di Gunungsitoli, Doktor Theologia ini merasa matang berbahasa Nias, lalu membuka Pos Pekabaran Injil  di Dahana, namun di sana ia berhadapan dengan penyembahan berhala yang begitu kuat. Sebab itu Ia beralih ke bidang pendidikan dan menghimpun dan mengajar para pemuda setempat. Usahanya inilah yang merupakan cikap bakal berdirinya Sekolah Guru di Nias.
Pada tahun 1881 datang lagi misionaris kelima bernama J.A. Fehr. Dia ini yang mengantikan J.W. Thomas di Ombõlata pada tahun 1883, sebab J.W. Thomas pergi berusaha membuka pos Pekabaran Injil di Sa’ua, meskipun usahanya  itu ternyata gagal.
Pada tahun 1882 didirikan sebuah lembaga pendidikan guru. Tetapi menonjollah bahwa penduduk Nias kalau meminta tenaga penginjil, lebih mengharapkan kedatangan seorang zendeling bangsa lain daripada tenaga sesuku mereka. Namun, para zendeling sadar akan peranan penting pembantu-pembantu mereka itu, sehingga mereka tetap berupaya meningkatkan wewenang pembantu itu di mata orang Nias. Pun upaya supaya jemaat-jemaat Nias menjadi swadaya telah dimulai agak dini. Sarana yang hendak disebut terakhir ialah penerjemahan Alkitab dan buku-buku lain ke dalam bahasa Nias (Utara) oleh pekabar Injil H. Sundermann, dengan bantuan Ama Mandranga dan beberapa orang Nias lannya (Injil Lukas, 1874; PB, 1891).[7]
Dalam 25 tahun masa permulaan ini, 5 orang pendeta penginjil dari RMG Jerman telah bekerja di Nias. Namun usaha Pekabaran Injil banyak kesulitan, seperti pengaruh agama suku yang sangat kuat, gangguan keamanan, wabah penyakit, keadaan geografi dan lain-lain. Daerah yang dicapai hanya di sekitar Gunungsitoli saja, dengan 3 Pos Pekabaran Injil yaitu Gunungsitoli, Ombõlata, dan Dahana. Usaha Denninger (yang dibantu oleh Kodding dan Mohri) di Onolimbu (Muara sungai Idanõ Mola) pada tahun 1867, Sunderman di Tugala Lahõmi-Sirombu tahun 1875/1876, J.W. Thomas di Sa’ua tahun 1885, semua itu baru bersifat penjajakan.
Walaupun banyak kesulitan yang dialami serta jangkauan Pekabaran Injil yang dapat dicapai tidak begitu luas, namun dalam periode ini telah berhasil dibaptis sebanyak 699 orang (148 orang di Gunungsitoli, 348 orang di Ombõlata dan 203 orang di Dahana). Juga diantara mereka telah dipilih beberapa orang menjadi penatua.[8]
C.     1891-1916
Usaha Pekabaran Injil pada periode ini ternyata mengalami kemajuan dibandingkan dengan periode sebelumnya. Pada periode ini berhasil masuk di Nias bagian Tengah sampai  ke Nias bagian Barat, Pantai sebelah Timur sampai di Nias bagian Selatan, Nias bagian Utara dan di Pulau-pulau Batu.[9]
Sementara itu, para zendeling menambahkan pada jumlah para guru dan penatua menjadi hampir 500. Diciptakannya pula jabatan sinenge ("rasul"), yang melayani jemaat-jemaat yang tidak mempunyai sekolah. Pada tahun 1906 ditahbiskanlah pendeta Nias yang pertama. Terjemahan seluruh Alkitab selesai dicetak pada tahun 1913. Bidang kegiatan para zendeling luas sekali: mereka membangun jalan-jalan, mendirikan bank tabungan, membuka kebun-kebun kopi, semua dalam rangka melicinkan jalan bagi usaha pI dan meningkatkan daya ekonomi jemaat Kristen. Berkat usaha mereka di bidang kesehatan, jumlah orang Kristen meningkat oleh pertumbuhan alamiah (masih terlepas dari masuknya orang yang bukan Kristen), sedangkan jumlah penduduk pulau Nias dalam keseluruhannya menurun akibat penyakit-penyakit menular. Dalam pada itu, para zendeling masih kurang senang melihat keadaan jemaat secara batin: penyalahgunaan minuman keras, kekacauan di bidang perkawinan, keengganan untuk memberi sumbangan berupa uang atau benda bagi kehidupan jemaat, masih merajalela. Pun mayoritas orang Nias tetap menolak Injil. Kata seorang zendeling. "Saya merasa bagaikan ular yang berusaha menggigiti besi".[10]
D.    Kebangunan Besar dan Hasil-hasilnya
Pada tahun 1916, terjadi kebangunan besar yang bermula di jemaat Helefanicha. Ada seorang yang menangis terus-menerus karena menyesali dosanya. Peristiwa ini pun terus terulang dan makin banyak orang yang demikian. Kebangunan yang berlangsung selama sepuluh tahun lebih itu membawa hasil besar bagi kehidupan jemaat, untuk perseorangan dan untuk persekutuan. Orang menghayati agama Kristen secara lebih mendalam; kabar kesukaan tentang keampunan dosa telah menjadi kenyataan hidup bagi mereka. Pergaulan antara sesama anggota jemaat menjadi santai, bebas, tidak lagi dibuat kaku oleh kenangan akan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan oleh anggota yang satu terhadap yang lain. Kehidupan persekutuan jemaat diperkaya, sebab, daripada bersikap pasif sambil menunggu tindakan penghantar jemaat, kini anggota jemaat ikut serta dalam segala macam kegiatan persekutuan. Namun, sesudah sepuluh tahun, gerakan kebangunan yang besar itu mereda. Lalu dalam banyak hal keadaan semula berlaku kembali. Jemaat kembali menjadi pasif, kerelaan berkorban bagi kehidupan jemaat menghilang lagi, disiplin gereja perlu diterapkan lagi, adat kembali berkuasa di atas hukum Kristen (khususnya dalam hal mas kawin/jujuran yang terlalu tinggi). Dalam dasawarsa-dasawarsa yang kemudian, sebagian dari massa yang masuk Kristen malah memisahkan diri atau berhasil ditarik oleh misi Katolik.[11]
E.     Gereja Berdiri Sendiri
Setelah gerakan kebangunan mereda, para zendeling mulai memikirkan kemandirian gereja. Pada tahun 1936 selesailah mereka merancangkan tata gereja. Lalu diadakan sinode Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) yang pertama (18 November 1936). Sinode itu menerima tata gereja yang telah dirancangkan. Keinginan Pengurus RMG di Barmen supaya semua pekabar Injil bangsa Eropa otomotis menjadi anggota sidang sinode dipenuhi; sebaliknya para zendeling menolak permintaan orang Kristen Nias, agar setiap distrik gereja diperbolehkan mengutus seorang tokoh masyarakat (seorang kepala suku) ke sinode sebagai anggota yang berhak penuh. Pada tahun 1940, semua zendeling bangsa Jerman ditawan oleh gubernemen. Maka fungsi ketua sinode (Ephorus) diambil alih oleh serang pendeta Nias, bernama Atefona Harefa. pada tahun 1942, para pendeta Belanda yang telah menggantikan orang Jerman yang ditawan itu diinternir pula oleh penguasa Jepang. Maka gereja harus benar-benar berdiri sendiri. Barulah pada tahun 1951 seorang utusan zending dari Jerman (seorang dokter) kembali bekerja di Nias, disusul oleh sejumlah orang Eropa yang lain. Namun, kedudukan mereka ini berbeda dengan kedudukan para zendeling sebelum perang: mereka mendapat status "penasihat".[12]
F.      Nama, Kedudukan, dan Logo BNKP
BNKP adalah singkatan dari Banua Niha Keriso Protestan yang merupakan persekutuan orang-orang percaya kepada Yesus Kristus yang berasal dari suku Nias dan suku-suku lainnya di dunia. BNKP hadir dan melayani di seluruh wilayah Indonesia dan Kantor Sinodenya berkedudukan di Gunungsitoli, Nias, Sumatera Utara. Logo BNKP adalah seperti terlihat di bawah ini:

Dengan arti dan makna sebagai berikut:
1.      BNKP mengaku bahwa Yesus Kristus yang ditandai dengan salib-Nya telah memanggil suku Nias dan sukusuku lainnya dari dunia ke dalam terang-Nya yang ajaib untuk beroleh pengampunan dan keselamatan.
2.      Tulisan BNKP yang mengitari salib, merupakan pengakuan bahwa kehidupan BNKP secara total adalah dari, oleh dan untuk Yesus Kristus.
3.      BNKP sebagai gereja telah diutus kembali ke dalam dunia yang ditandai dengan bola bumi, untuk memberitakan salib Kristus dalam menyatakan pembebasan, pengampunan, perdamaian dan berkatbagi segala makhluk.
4.      BNKP sebagai gereja berpengharapan akan kehidupan yang kekal yang ditandai dengan mahkota yang telah dipersiapkan oleh Yesus Kristus bagi orang yang percaya dan setia kepada-Nya.[13]
















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Sebagai dampak datangnya Injil dan usaha pekabaran injil di Nias, maka berdirilah Gereja BNKP yang melembaga sebagai satu sinode  pada tanggal 18 November 1936. BNKP adalah satu gereja beraliran reformasi di Indonesia, yang telah menjelma di Pulau Nias sejak kedatangan Missionaris pertama Ernst Ludwig Denninger di Pulau Nias pada hari Rabu, tanggal  27 September 1865. Denninger memiliki banyak cara untuk menarik perhatian supaya orang-orang mau belajar Firman Tuhan dan menyanyikan puji-pujian. Dalam perkembangannya tercatat bahwa BNKP berasal dari hasil pemberitaan Injil  para utusan Rheinische Missions Gessellschaft (RMG) dan ada pula utusan dari Belanda yang selanjutnya diteruskan oleh para pemberita Injil Ono Niha.
B.     Saran
Para misionaris yang melayani di Pulau Nias, patutlah menjadi teladan bagi kita. Mereka sudah mengalami hal-hal yang pahit, namun tetap teguh dalam pemberitaan Injil. Kerinduan mereka supaya semua bangsa mengenal Injil-Nya haruslah juga tertanam dalam diri kita walaupun dalam pelayanan banyaklah tantangan yang harus kita hadapi. Kita juga dapat meneladani Denninger, di mana dalam melayani kita harus memikirkan berbagai macam cara untuk menarik perhatian orang-orang sehingga mereka tertarik untuk belajar Firman Tuhan dan Kristuslah yang dipermuliakan.





[1] Dr. Th. Van den End, Dr. J. Weitjens, S.J, Ragi Carita: Sejarah Gereja di Indonesia 1860an-sekarang, Jakarta: Gunung Mulia, 1993, 202
[2] Bambowo La‟iya, Solidaritas Kekeluargaan, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1983, Hal 27.
[3] Perang Hidayat/ Perang Banjar (1859-1905)] adalah perang perlawanan terhadap penjajahan kolonial Belanda yang terjadi di Kesultanan Banjar yang meliputi wilayah provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
[4] Dr. Th. Van den End, Dr. J. Weitjens, S.J, Ragi Carita: Sejarah Gereja di Indonesia 1860an-sekarang, Jakarta: Gunung Mulia, 1993, 202

[5] https://bnkpteladan.wordpress.com/bnkp/
[6] http://www.sabda.org/sejarah/artikel/pekabaran_injil_dan_gereja_di_nias.htm
[7] Dr. Th. Van den End, Dr. J. Weitjens, S.J, Ragi Carita: Sejarah Gereja di Indonesia 1860an-sekarang, Jakarta: Gunung Mulia, 1993, 203
[8] https://bnkpteladan.wordpress.com/bnkp/
[9] Ibid..
[10] Dr. Th. Van den End, Dr. J. Weitjens, S.J, Ragi Carita: Sejarah Gereja di Indonesia 1860an-sekarang, Jakarta: Gunung Mulia, 1993, 203
[11] http://www.sabda.org/sejarah/artikel/pekabaran_injil_dan_gereja_di_nias.htm
[12] Dr. Th. Van den End, Dr. J. Weitjens, S.J, Ragi Carita: Sejarah Gereja di Indonesia 1860an-sekarang, Jakarta: Gunung Mulia, 1993, 206
[13] tata-gereja-banua-niha-keriso-protestan-bnkp.pdf

Kamis, 05 Oktober 2017

EKSEGESE PB: KOLOSE 1:21-23

BAB I
PENDAHULUAN

Menafsir adalah kegiatan yang biasa dilakukan setiap hari. Pada saat mendengar pernyataan lisan atau membaca pernyataan tertulis dan berusaha untuk memahaminya, seseorang itu sebenarnya tengah melakukan penafsiran (eksegese). Istilah “eksegese” berasal dari kata Yunani “Eksegeomai” yang dalam bentuk dasarnya berarti “membawa ke luar”. Apabila dikenakan pada tulisan-tulisan, kata tersebut berarti “membaca atau menggali” tulisan-tulisan itu.
Pada kesempatan ini, penulis akan mencoba untuk mengeksege salah satu dari surat yang ditulis oleh Paulus. Kolose 1:21-23. LAI memberi perikop “Keutamaan Kristus”. Paulus menulis surat ini kepada Jemaat di Kolose sewaktu ia berada di kota Efesus. Paulus tidak melayani secara langsung jemaat di Kolose. Yang melayani langsung jemaat Kolose adalah Epafras.









BAB II
ISI

Kota Kolose terletak di pedalaman Asia di atas bukit-bukit karang berhadapan dengan lembah Sungai Likus, tidak jauh dari kota-kota Hirapolis dan Laodikia. Berada pada jalur perniagaan dari Timur, yang melaluinya agama-agama Asia dan barang-barang dagangan Asia dibawa ke Roma. Penduduk Kolose terdiri atas orang-orang Frigia yang memiliki latar belakang religius yang bersifat emosional dan mistis. Mereka selalu berusaha mencari kepenuhan Tuhan, dan bila ada guru-guru yang datang kepada mereka dengan suatu filsafat yang menjanjikan suatu pengetahuan kebatian tentang Tuhan, mereka akan terpikat olehnya.
            Paulus menceritakan tentang keadaan hidup masyarakat Kristen Kolose dahulu dengan menyebut cara berpikir dan bertindak mereka yang menolak kekuasaan Allah. Ia membicarakan hal ini kepada jemaat di Kolose, di mana mereka telah menerima Injil dan anugerah serta hidup di dalam kasih. Ia mengingatkan mereka bahwa Kristus telah memperdamaikan mereka dengan Allah, dan melayakkan mereka di hadapan Allah oleh karena kematian-Nya. Sebelum teks ini Paulus memang menerangkan tentang keutamaan Kristus, apa yang Ia lakukan dan karya-Nya, serta tentang pribadi Kristus sendiri. Maka Paulus melanjutkan tentang hal keselamatan. Karya Kristus yang mendamaikan Allah dengan manusia. Dan Paulus memberi peringatan kepada mereka supaya saat ajaran sesat masuk, mereka tidak bergeser dari Injil dan tetap teguh di dalam iman.
            Dalam ayat 21 ada kalimat “jauh dari Allah”. Kalimat ini menggunakan kata aphllotriwmenouj[1] yang berasal dari kata allotrion (“kepunyaan orang lain”) dengan bentuk partisip perfek pasif akusatif maskulin jamak dan juga menggunakan kata depan dengan genitif (dari, berasal dari) yang membuat artinya menjadi “terasing dari”. Jadi maknanya adalah bahwa manusia (dahulu) telah terasing dari Allah. Seakan-akan tidak mengenal-Nya terlebih menjalin hubungan dengan Allah.
            Dalam ayat 22 ada kata “diperdamaikan-Nya”. Kata ini menggunakan kata apokathllaxen[2] yang berasal dari apokatallaso dengan bentuk aorist indikatif aktif orang ke-3 tunggal yang berarti “Ia pernah mendamaikan”. Hal ini pernah terjadi dan tidak diulang.
Ada juga kalimat “menempatkan kamu kudus,….” Kata menempatkan di sini menggunakan kata parasthsai[3] dari kata paristemi dengan bentuk infinitif aorist aktif yang berarti “menaruh di sisi”. Hal ini terus menerus dilakukan atau berulang kali dilakukan.
            Kristus mendamaikan manusia dengan Allah. Hal ini hanya Ia lakukan satu kali melalui kematian-Nya di kayu salib. Namun, Ia akan terus menerus menempatkan kita untuk berdiri dalam kekudusan dan tidak bercela dan tidak bercacat di hadapan Allah. Ini adalah sebuah proses yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita.
            Dalam Alkitab BGT, ada kata teqemeliwmenoi[4] yang artinya tidak muncul dalam Alkitab TB. Kata itu berasal dari kata qemeliow dalam bentuk perfek partisip pasive maskulin jamak yang memiliki arti “diletakkan dasar” atau bisa juga “didirikan”. Ini adalah sesuatu yang dilakukan dulu dan akibatnya tetap berlaku sampai seterusnya. Kata ini menerangkan “Pengharapan Injil”. Jadi, jemaat di Kolose telah merima atau diletakkan dasar oleh Epafras (orang yang melayani di Kolose) tentang Pengharapan Injil dan mereka menerimanya. Epafras telah mendirikan iman dalam pengharapan Injil kepada jemaat Kolose. Oleh sebab itu, karena sudah ada fondasinya, maka jemaat Kolose dihimbau untuk tetap teguh dan tidak bergoncang, serta tidak digeser oleh ajaran-ajaran dari luar selain Injil. Jangan sampai ajaran-ajaran sesat itu menggeser iman mereka dari Injil kepada ajaran sesat itu.

















BAB III
KESIMPULAN
            Jemaat di Kolose yang dilayani oleh Epafras adalah jemaat yang telah menerima Injil. Namun, mereka masih sangat rapuh. Mudah untuk diombang-ambingkan oleh pengajaran-pengajaran atau filsafat-filsafat lain di luar Injil. Dan Paulus, melalui suratnya ini menegaskan kembali kepada mereka bahwa mereka bukan lagi musuh Allah. Mereka telah diperdamaikan oleh Allah melalui kematian Jasmani Tuhan Yesus. Pendamaian ini hanya Kristus lakukan satu kali, namun dampaknya berkelanjutan. Dan Kristus juga telah menguduskan mereka – menempatkan mereka ke dalam kekudusan, serta menjadikan mereka tidak bercela dan tidak bercacat di hadapan Allah. Berbeda dengan pendamaian yang hanya Ia lakukan satu kali. Menempatkan mereka ke dalam kekudusan adalah proses yang terus menerus Ia lakukan. Oleh sebab itu, mereka yang telah menerima dasar tentang pengharapan Injil yang diletakkan/didirikan oleh Epafras, harus tetap bertekun dalam iman, tidak mudah berguncang karena dasar yang kuat, dan pengharapan mereka akan Injil tidak tergeser oleh ajaran-ajaran sesat atau filsafat-filsafat yang masuk, yang ingin menggeser iman mereka dari Injil.








BAB IV
PENERAPAN

            Kita yang telah percaya akan Kristus, sudah diperdamaikan dengan Allah melalui kematian Tuhan Yesus Kristus. Yang sebelumnya kita adalah musuh Allah karena dosa-dosa kita, perbuatan-perbuatan maupun pikiran-pikiran kita yang bercela di hadapan Allah, membuat kita jauh dari pada-Nya. kita tidak bisa bersekutu dengannya. Namun sekarang, haruslah kita mengucap syukur atas karya Allah melalui Tuhan Yesus yang rela mati demi mendamaikan kita dengan Allah. Sehingga kita layak untuk bersekutu dengan-Nya.
            Pendamaian yang dilakukan oleh Kristus hanya satu kali. Kematian-Nya hanya satu kali. Namun terus berdampak bagi kita saat ini. Selain memperdamaikan, Tuhan Yesus juga melakukan proses terus menerus dalam kehidupan kita, yaitu untuk menempatkan kita kudus, tak bercela, dan tak bercacat di hadapannya. Proses ini tidak dapat kita lakukan sendiri. Perbuatan baik kita pun tidak dapat membuat kita kudus, tak bercela, tak bercacat di hadapan Allah. Hanya Tuhan Yesus yang sudah masuk ke dalam hati kitalah yang memampukan kita menjalani proses pengudusan itu.
            Oleh sebab itu, kita yang telah diperdamaikan oleh Allah dan juga telah dikuduskan oleh Tuhan Yesus, hendaklah kita tetap bertekun dalam iman kita. Iman percaya kita kepada Tuhan Yesus yang telah kita peroleh dari Firman-Nya yang tertulis dalam Alkitab. Kehidupan kita haruslah berfondasikan iman yang kuat dan kokoh supaya walaupun ada yang dapat mempengaruhi kita berkaitan dengan iman kita, kita akan tetap teguh, tidak bergoncang, dan kita tidak bergeser dari Pengharapan Injil. Kita akan tetap percaya bahwa Tuhan Yesuslah satu-satunya Pribadi yang dapat menghapus dosa-dosa kita, mendamaikan kita dengan Allah, menguduskan kita, dan membuat kita memperoleh keselamatan, yaitu kehidupan kekal bersama-sama dengan Dia.
BAB V
PENUTUP

            Kiranya melalui eksegese Kolose 1:21-23 ini, para pembaca akan semakin kuat dan teguh dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus, karena telah menyadari bahwa Kristuslah satu-satunya Juruselamat yang mendamaikan kita dengan Allah, yang menguduskan kita, dan memberi keselamatan kepada kita. Tuhan Yesus memberkati.



[1] Eph 2:12; 4:18
[2] Memiliki beberapa varian: aphllaxen, apokathllaktai, apokathllaghte, apokatallageutej, namun kata yang yang penulis pilih adalah apokathllaxen, karena ia memiliki pendukung paling banyak dan termasuk kategori paling mungkin asli. | Eph 2:16

[3] Mat.26:53 (mengirim); Kis.23:24 (sediakan); Roma 6:13 (menyerahkan).
[4] Found Mat 7:25; Luk. 6:48; Ibr. 1:10. establish, strengthen Ef. 3:17; 1 Pt 5:10

TAFSIR PB: ROMA 12:1-2

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Konteks Historis
Surat Paulus ini sudah pasti ditujukan kepada jemaat di Roma. Jemaat Roma pada saat itu sedang mendapat banyak tekanan baik dari orang Yahudi maupun orang-orang Roma sendiri. Selain itu di dalam tubuh jemaat Roma sendiri sedang terjadi konflik. Oleh karena itu Paulus mengirimkan surat ini untuk menasihati jemaat di Roma. Paulus menasihati mereka bagaimana seharusnuya bersikap terhadap keadaan mereka dan bagaimana sikap mereka kepada pemerintah. Paulus menulis surat ini untuk menjelaskan pengertiannya tentang agama Kristen dan tuntutan-tuntutannya yang praktis untuk kehidupan orang-orang Kristen.
Diperkirakan bahwa Paulus menulis surat ini ketika tinggal di Korintus. Di sana ia tinggal di rumah Gayus dan menulis surat kepada jemaat di Roma. [1]Paulus menulis surat ini kira-kira pada tahun 58 M. Ada juga pendapat yang mengemukakan bahwa surat ini ditulis sekitar tahun 56 atau 57. Waktu itu ia sedang menyelesaikan tugasnya untuk membantu jemaat di Yerusalem yang saat itu sangat miskin dan membutuhkan dana. Ketika surat ini dibuat, Paulus sedang bersiap-siap untuk membawakan dana kepada jemaat di Yerusalem.[2]
1.2.Konteks Sastra
Paulus biasanya tidak menulis sendiri surat-suratnya, melainkan mendiktekannya kepada seorang sekretaris, dan kemudian membubuhkan tanda tangannya.  Ketika Paulus menyusun surat-suratnya, dalam pikirannya ia mempunyai gambaran yang jelas akan orang-orang yang akan menerima suratnya itu, dan ia mencurahkan isi hatinya kepada mereka dalam kalimat-kalimat yang kadang-kadang tidak beraturan, karena begitu besar hasratnya untuk segera menolong mereka menghadapi masalah-masalahnya.[3]
Pada pasal 12-15, Paulus kemudian meninggalkan pernyataan-pernyataan teologis, dan menulis tentang penerapan kebenaran Allah secara praktis dalam kehidupan orang Kristen. Di sini ia membahas hubungan orang Kristen dengan jemaat, dengan orang lain, dan dengan negara. Ia meringkaskan kewajiban orang Kristen secara keseluruhan dengan kata-kata “kasiih adalah kegenapan hukum taurat”. Ia sekali lagi menandaskan peraturan yang dipaksakan dari luar, melainkan oleh kuasa Roh Kudus yang bekerja dalam diri orang percaya. Tetapi hasil akhir dari pekerjaan Roh Kudus adalah pada kenyataannya Hukum Allah dipelihara.[4]
Terlebih khusus pasal 12. Di sini dapat ditemukan kembali pola penulisan Paulus yang selalu ia pakai. Ia selalu mengakhiri surat-suratnya dengan nasihat praktis. Dalam pasal 12 ini, terdapat nasihat untuk hidup yang memiliki visi spiritual yaitu mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan yang berkenan di hadapan Allah sebagai wujud ibadah yang sejati.























BAB II
TAFSIRAN TERPERINCI
ROMA 12:1-2

            Paulus telah menerima visi dari Allah. Dan visi itu telah menjadi nyata dalam kehidupannya. Dan ia telah mengeksekusi visi yang sudah ia terima dari Allah dalam kehidupan pelayanannya. Meskipun ia tidak secara langsung bertemu dengan jemaat di Roma, tetapi ia memiliki kerinduan untuk membagikan visi yang telah ia terima dan yang telah ia eksekusi ini kepada jemaat di sana. Paulus memulai perikop ini dengan kata “karena itu”. Pernyataan “karena itu“ mengindikasikan bahwa Paulus menuliskan sebuah hal yang datang dari apa yang telah dia sampaikan sebelumnya. Dalam pasal 1 hingga pasal 8, dia menjelaskan tentang kemurahan Allah terhadap bangsa-bangsa lain, yaitu terhadap kita. Dan di dalam pasal 9, 10, 11, dia berbicara tentang kemurahan dan belas kasihan Allah terhadap orang Yahudi.
(ilustrasi) Contoh kasus SBY memberi grasi kepada “ratu narkoba” Scapelle Corby, dll, Jokowi yang memberikan grasi kepada Dwi Trisna Firmansyah yang melakukan pembunuhan sadis di Pekanbaru dan Antasari Azhar yang membunuh Nazrudin Zulkarnaen.

(aplikasi) Kita pun sungguh beruntung karena kita dibebaskan dari hukuman yang harusnya kita tanggung karena dosa-dosa kita. Tuhan Yesus sendiri yang mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa itu. Inilah alasan mengapa kita harus mencapai visi spiritualitas kita dan mengeksekusinya seperti Paulus.

1.      Eksekusi Visi

a.      Mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan kepada Allah
Nasihat yang disampaikan Paulus bersifat sebuah permohonan yang mendesak, dimana permohonan tersebut dia sampaikan secara langsung kepada jemaat di Roma melalui tulisannya di dalam surat ini. Permohonan Paulus yang mendesak ini juga bersifat pribadi, artinya Paulus ingin agar setiap pribadi jemaat yang ada di Roma bisa mengikuti nasihat yang disampaikannya, karena nasihat tersebut bersifat mendesak, dan berlaku mulai saat surat itu dibacakan kepada jemaat tersebut.
Kata “persembahan“ menggambarkan tubuh kita sebagai “korban” yang dipersembahkan diatas mezbah. Kata “hidup“ memiliki arti hidup, tidak mati, tidak terbunuh. Hal ini menggambarkan bahwa kita harus mempersembahkan tubuh kita ke atas mezbah dalam keadaan hidup.
Kata “kudus“ memiliki arti “murni” dan “tanpa noda”. Sedangkan kata “berkenan” memiliki arti “yang berkenan/menyenangkan”, “Tanpa cacat”. Jadi secara keseluruhan melalui bagian ini Paulus menasehatkan kepada jemaat di Roma agar mereka pribadi lepas pribadi membawa tubuhnya masing-masing ke dalam hadirat Tuhan atau ke Mezbah-Nya sebagai sebuah kurban yang benar-benar hidup, muni (tanpa noda), dan tanpa cacat yang menyenangkan hati Tuhan.
Kemudian dilanjutkan dengan: ‘itu adalah ibadahmu yang sejati’. Dalam Bahasa Yunaninya, tertulis: λογικὴν λατρείαν ὑμῶν.  Dimana kata : λογικὴν (kasus akusatif) – diartikan sebagai ‘penuh pemikiran/berpikir secara hati-hati’; sedangkan kata λατρείαν ὑμῶν – menunjukkan penyembahanmu. Oleh karena itu, saya lebih condong menerjemahkan sebagai “itu penyembahanmu dengan penuh pemikiran yang dapat kamu berikan.”
Jadi arti secara keseluruhan ayat ini (secara harafiah): Paulus meminta dengan sangat/ mendesak jemaat di kota Roma untuk mempersembahkan tubuh (secara totalitas) sebagai suatu korban persembahan yang hidup dan  kudus, yang berkenan bagi Allah. Itu semua karena atas karya yang sudah Ia lakukan dalam kehidupan kita, berdasarkan kemurahan Allah semata.
(Ilustrasi) Saya memiliki seorang teman yang sedang menjalin kasih. Ketika kekasihnya berulangtahun, ia benar-benar meluangkan waktu berhari-hari untuk mencari hadiah bagi kekasihnya. Walaupun hanya sebuah dompet, ia rela mencari dompet yang terbaik yang bisa diberikan dihari yang berbahagia itu. Belum lagi saat ia mencari bungkus kado dan kartu ucapan, dipilih yang terbaik dan terindah menurut dia. Dan akhirnya, kado itu bisa dikemas dengan bungkusan yang terbaik. Karena kado itu dianggap layak diterima oleh kekasihnya.

(Aplikasi) Hadiah kado akan  diusahakan sedemikian rupa untuk orang yang dikasihi, apalagi kepada Tuhan, yang sudah terlebih dulu mengasihi dan melakukan karya keselamatan dalam hidup kita. Dan kalau kita bisa sampai pada saat ini, juga karena kemurahan-Nya belaka. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah mempersembahkan tubuh kita yang hidup dan kudus sebagai rasa penyembahan kita kepada Allah, yang layak menerimanya; berdasarkan kemurahan-Nya belaka?
Mengapa mempersembahkan tubuh? Menurut saya, selama kita hidup di bumi ini, tubuh kita inilah yang seringkali berbuat dosa, tubuh inilah yang sulit dikendalikan, tubuh inilah yang paling sulit diajak hidup dalam kebenaran. Maka tidak heran jika Paulus menasihatkan kita untuk mempersembahkan tubuh.
Kita adalah ciptaan Tuhan yang sempurna. Termasuk tubuh kita. Dan sudah selayaknya tubuh ini dikembalikan kepada Tuhan untuk dipakai Tuhan. Hal ini berarti, harus ada penyerahan totalitas hidup kita kepada Tuhan. Jangan setengah-setengah. Hati dan pikiran kita harus balance! Kalau hati kita ingn diserahkan kepada Tuhan, ingin melayani Tuhan, dsb tapi pikiran kita masih pikiran jahat yang berarti diserahkan kepada dunia, sama saja bohong! Itu bukanlah penyerahan total. Jika hati dan pikiran kita diserahkan kepada Tuhan, sudah pasti secara otomatis, seluruh aspek dalam hidup kita, kita serahkan kepada Tuhan. Seperti tenaga, talenta, dan semua karunia yang telah Tuhan berikan. Ini dilakukan  sebagai tanggapan terhadap kasih karunia Allah yang telah diberikan kepada kita.

b.      Jangan menjadi serupa dengan dunia ini
Ayat ini berbicara tentang sebuah nasihat dari Paulus kepada jemaat di Roma agar mereka hidup tidak lagi hidup seperti orang-orang dunia, tidak lagi berfikiran seperti orang-orang dunia, dan tidak lagi bertingkah seperti orang-orang dunia.
Kita bukan seperti seekor bunglon yang dapat berubah warna sesuai dengan tempat dimana kita tinggal. Paulus minta agar jemaatnya di Roma tidak terpengaruh dengan kondisi dunia pada masa kini. Orang Kristen jangan mudah terpengaruh. Orang Kristen harus menunjukkan jati diri-Nya sebagai orang percaya. Dengan cara ‘berubahlah’ (ἀλλὰ μεταμορφοῦσθε) dimana diterjemahkan: ‘tetapi (kamu) berubahlah’. Kata μεταμορφοῦσθε – dari kata ‘morphe’; Dimana kata ‘morphe’ menunjuk pada ‘transformasi dari dalam’ dimana terdapat perubahan karakter yang mendasar secara mendalam.
Lalu ‘berubah oleh apa’? berubah oleh pembaharuan budi. suatu tindakan yang membuat seseorang menjadi baru secara rohani atau ‘mengalami pembaharuan’. Pembaharuan ‘konsep pikir/cara pikir atau bersikap’.
Dengan ‘pembaharuan budi’ inilah kita dapat “membedakan (mengetahui) manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”  Suatu akibat yang dihasilkan dari adanya ‘pembaharuan budi’.
Secara keseluruhan ayat ini berarti: “tidak mengikuti arus/kondisi jaman ini, namun bertransformasilah dimulai adanya pembaharuan dalam akal budi/konsep pikiranmu sehingga dapat mengetahui apakah kehendak Allah: yang baik, yang berkenan/sesuai, dan yang sempurna.

(aplikasi) Cara yang kedua untuk mengeksekusi visi yaitu dengan menjaga diri kia supaya kita tidak menjadi serupa dengan dunia. Hal ini lebih menekankan pada cara hidup dan hal etis. Harapan Paulus agar orang percaya menunjukkan cara hıdup yang berbeda dengan mereka yang tidak mengenal Allah. Berani tampil beda. Di sini dibutuhkan kesadaran bahwa kita telah diselamatkan dan dikuduskanNya. Fırman Tuhan mengingatkan supaya kita "Berubah oleh Pembaharuan Budi". Akal budi yang sudah dikuduskan dipastikan dapat mengambil keputusan yang tepat/benar.









BAB III
RANGKUMAN
            Dalam surat Paulus pasal 1-11 berisi ajaran-ajaran tentang asas-asas dan persoalan-persoalan. Ia telah megatakan bagaimana  orang dapat menjadi benar. Dalam pasal 12:1-2 ini Paulus berusaha untuk menerangkan hidup beriman dalam kehidupan sehari-hari dan kewajiban untuk hidup secara Kristen yang harus memiliki visi bagi spiritualitas kehidupan Kristen.
            Dengan demikian, kita menemukan visi bagi spiritualitas kita. Dalam kedua ayat ini ada kata yang diulang, yaitu “berkenan”. Itulah yang menjadi visi bagi spiritualitas kita yaitu menjadi apa yang berkenan kepada Allah dan yang dikehendaki Allah. Dan marilah kita mengeksekusinya dengan mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan yang sesuai dengan kehendak Allah, serta tidak menjadi serupa dengan dunia ini. VISI TANPA EKSEKUSI HANYALAH SEBUAH ILUSI.













[1] Dave Hagelberg, Tafsiran Surat Roma. (Bandung: Yayasan Kalam Hidup 2000), 271
[2] John Drane, Memahami Perjanjian Baru (Jakarta: Bpk Gunung Mulia 1996), 368-370
[3] William Barclay,  Pemahaman Alkitab Setiap Hari, (Jakarta: Bpk Gunung Mulia 2011), 9
[4] John Drane, Memahami Perjanjian Baru (Jakarta: Bpk Gunung Mulia 1996), 371